Mega dan Prabowo Dihujat, SBY Disanjung di Facebook

Mega dan Prabowo Dihujat, SBY Disanjung di Facebook
Laurencius Simanjuntak – detikinet

Jakarta – Jejaring sosial Facebook tidak hanya dijadikan sebagai sarana membangun pertemanan, tetapi juga bisa digunakan sebagai tempat mendukung dan menghujat Capres 2009. Selain kelompok ‘Say No To Megawati’, kini muncul ‘Say No To Prabowo, dan ‘Say Yes To SBY’.

Hujatan dan cercaan dilancarkan kepada Prabowo Subianto. Foto yang dipampangkan pun seolah ingin mengembalikan kesan ‘ngeri’ mantan Pangkostrad yang namanya sering disebut-sebut dalam sejarah hitam tragedi 1998 ini.

Dalam foto tersebut Prabowo mengenakan seragam Kopassus lengkap dengan baret merahnya. Tak hanya itu, foto Soeharto muda juga menjadi latar foto yang dibuat tangan-tangan tak bertanggung jawab itu.

“Prabowo Soeharto Jilid II,” demikian yang tertulis di foto tersebut.

Pada Senin (6/4/2009) pukul 08.45 WIB pendukung ‘Say No To Prabowo’ mencapai 618 anggota. Sedangkan Megawati sudah menembus 61.000 anggota.

Berbeda dengan Prabowo dan Megawati, capres Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru mendapat pujian dengan munculnya kelompok ‘Say Yes To SBY’.

“LANJUTKAN…..!!!!!!!!!!!!!!” tulis seorang pendukung.

Lain lagi, entah kesengesem dengan kegantengan capres pujaan hatinya atau gimana, seorang anggota wanita berkomentar “Kalo gue…sampai mimpi2 segala tidur bareng ma beliau….hahahahaha”.

Dalam jam yang sama, anggota ‘Say Yes To SBY’ sudah mencapai 4.058 anggota.

( lrn / ash )

Advertisements

Perang Cyber Rusia-Estonia

Hacker Pertama ‘Gugur’ di Perang Cyber Rusia-Estonia
Fino Yurio Kristo – detikinet


Ilustrasi (javno)

Estonia – Jika perang sungguhan melibatkan tentara militer, perang cyber juga melibatkan kepintaran para ‘tentara’ hacker. Dalam perang cyber yang melibatkan Rusia dan Estonia, hacker pertama pun dilaporkan ‘gugur’ di medan laga lantaran tertangkap dan dijatuhi hukuman.

Hacker beretnis Rusia ini dihukum berkaitan dengan adanya serangan cyber yang melanda Estonia tahun lalu. Serangan cyber ini diduga kuat turut didalangi oleh Rusia, mantan penjajah Estonia pada masa lalu.

“Dmitri Galushkevic adalah hacker pertama yang dihukum karena melancarkan serangan cyber besar-besaran pada situs-situs Estonia,” ungkap Gerrit Maesalu, juru bicara kejaksaan di utara Estonia, seperti dikutip detikINET dari AFP, Kamis (24/1/2008).

Serangan Galushkevic ini hanyalah bagian dari serangan berskala besar yang melanda Estonia itu untuk memprotes kebijakan Perdana Menteri Andrus Ansip. Protes terjadi karena Ansip membongkar sebuah monumen tentara Rusia dari ibu kota Estonia, Stallin.

Sejak patung yang dianggap bernilai penting bagi orang Rusia ini dipindahkan, hubungan antara Estonia dan Rusia terus memburuk. Bahkan diduga kuat, Rusia turut menjadi dalang serangan cyber ke Estonia tersebut berkenaan dengan kejadian ini.

Menurut investigasi pihak Estonia, kebanyakan tersangka dipercaya ada di Rusia. Bahkan, komputer pemerintah Rusia di Kremlin diduga jadi sumber serangan pada beberapa server Estonia. Namun pihak Rusia membantah terlibat pada serangan ke Estonia ini.
( fyk / fyk )

PM Australia Jadi Sasaran Mata-mata Cyber

PM Australia Jadi Sasaran Mata-mata Cyber
Santi Dwi Jayanti – detikinet
Kevin Rudd (Ist.)

Jakarta – Orang penting sekaliber Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd ternyata tak luput dari aksi pengintaian online. Rudd mengaku menghadapi ancaman cyber tersebut saat berkunjung ke Beijing.

Hal tersebut beliau ungkapkan ketika menghadiri pertemuan G20 di London. Ancaman tersebut datang saat kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu Agustus tahun lalu dalam rangka menghadiri Olimpiade.

Sebelum kedatangannya ke China, ia mengaku tidak diberitahu mengenai kemungkinan ancaman mata-mata yang mencoba menerobos email dan ponselnya tersebut. Oleh karena itu, ia pun tidak menyadari bahwa data pribadi dan kantornya telah berada di bawah pengintaian.

Bukan hanya alat komunikasi Kevin Rudd saja yang dimata-matai. Dikutip detikINET dari AFP, Jumat (3/4/2009), para dedemit maya juga coba menjebol jaringan pemerintahan dan bisnis TI di sana. Hal serupa seperti yang mereka lakukan pada sejumlah kedutaan besar yang bermarkas di Canberra.

Pelaku sepertinya tidak ingin Australia terlalu dekat dengan China. Hal ini merujuk pada aksi yang dilakukan di tengah-tengah gencarnya langkah Australia mendekati China yang salah satu tujuannya adalah agar China ambil bagian di IMF (International Monetary Fund). ( sha / ash )

Awasi Software dan IT KPU!

Selasa, 07/04/2009 16:40 WIB

Amien Rais: Awasi Software dan IT KPU!
Bagus Kurniawan – detikinet
Amien Rais (dok. detikcom)

Jakarta – Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais meminta masyarakat untuk mewaspadai dan mengawasi software dan IT yang digunakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sebab pembuatan software yang digunakan sangat tertutup dan KPU tidak pernah membeberkannya.

“Di samping DPT yang masih morat-marit. Kita juga harus waspada soal software KPU,” tegas Amien saat diskusi ‘Refleksi Jelang Pemilu 2009, Sebuah Catatan Keprihatinan’ di kantor Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Terban, Blimbingsari Yogyakarta, Selasa (7/4/2009).

Selain DPT yang tidak pernah ada penyelesaian lanjut Amien, kecelakaan pemilu juga bisa terjadi pada software yang dipakai di KPU Pusat. Sebab sampai sekarang tidak ada kejelasan software yang dipakai.

“Ini tidak pernah dibuka sejak awal dan KPU tertutup. Kalau soal DPT itu soal yang ecek-ecek, kalau software seperti exitpole-nya bagaimana atau gate-gate-nya bisa diatur sehingga dapat diketahui pemenangnya,” ujar Amien.

Menurut dia, pelaksanaan pemilu saat ini seperti pemilu yang tanpa arah. Sementara itu biaya yang dikeluarkan sangatlah besar. Amien pun memperkirakan pemilu ketiga pascareformasi ini dipastikan akan turun kualitasnya karena praktek money politics secara besar-besaran. Dengan demikian kemungkinan kualitas pemilu yang menurun dibanding sebelumnya sangatlah besar.

“Belum pernah ada money politic yang dilakukan oleh para caleg secara besar-besaran. Uang dijadikan pengikat, Segala cara ditempuh untuk memenangkan,” pungkas guru besar Fisipol UGM itu.
( bgs / ash )

Ingin Belajar Open Source, Mesir Dekati Onno Purbo

Ingin Belajar Open Source, Mesir Dekati Onno Purbo
Ardhi Suryadhi – detikinet

Onno W. Purbo (inet)

Jakarta – Onno Purbo cukup menjadi bintang dalam konferensi ICTD 2009 yang berlangsung di Carnegie Mellon University di Qatar, pada 16-19 April 2009 lalu.

Atas partisipasinya di ajang dunia tersebut, banyak praktisi dunia berdecak kagum kepada Indonesia atas pengalamannya memanfaatkan Wajanbolic e-goen, VoIP Rakyat dan ebook Open Source untuk sekolah.

Bahkan, peserta dari Harvard, Grameen Foundation, Islamic Development Bank (IDB), Mesir dan banyak lembaga internasional lainnya, melakukan pendekatan khusus kepada Onno untuk melihat kemungkinan mengadopsi dan melakukan ‘scaling up’ atas apa yang telah dilakukan Indonesia agar bisa digunakan di berbagai negara lain.

Dijelaskan Onno, khususnya pendekatan Buku Sekolah Elektronik (BSE) TIK Open Source menjadi sangat menarik bagi banyak negara, karena mereka tidak terpikir untuk membuat BSE TIK untuk mengopensourcekan negaranya.

“Tidak heran Mesir langsung menghubungi saya untuk melihat kemungkinan untuk mengadopsi pendekatan yang dilakukan Indonesia dalam mengopensourcekan bangsanya,” ujar Onno dalam surat elektroniknya kepada detikINET.

Tentu ini menjadi apresiasi yang luar biasa terhadap Indonesia. Kerja keras untuk lebih memasyaratkatkan Open Source lewat buku elektronik diacungi jempol oleh dunia.

“Indonesia adalah negara terdepan yang secara serius mengopensourcekan negaranya melalui pendidikan,” pungkas Onno.

( ash / ash )