Beberapa Istilah Hacking

Di Indonesia, istilah hacker kerap mengundang kontroversi. Banyak orang memandangnya miring, dengan konotasi sebagai penjahat. Padahal, otak dan hobi mereka mengutak-atik sistem komputer bisa dimanfaatkan untuk hal yang menguntungkan bagi banyak pihak.

Insiden Keamanan

Di Indonesia, kasus hacking atau pembobolan sistem informasi kerap terjadi. Hal itu dituturkan oleh Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastrucure (ID-SIRTII) yang kerap disapa Didin, dalam koferensi pers menjelang ajang nasional “Biggest Hacker’s Day Event in Indonesia”, di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (11/6) lalu.

Menurut Didin, spionase di dunia industri dan korporasi menggunakan teknik phising atau penipuan lewat email juga kerap terjadi tanpa disadari oleh pihak korbannya. “Bahkan, website milik presiden pun setiap harinya bisa menghadapi 3.000 serangan,” tuturnya.

Jika Anda ingat, Indonesia pernah dihebohkan dengan berita mengenai insiden hacking yang menyerang situs web milik KPU. Beda dengan pendapat banyak orang, Didin berpendapat bahwa insiden hacking tersebut besar karena semata bermuatan politik. Jika ditilik secara kualitas, masih ada insiden lain yang lebih besar dari kasus tersebut, yakni serangan botnet dan virus. Botnet adalah komputer yang dikendalikan oleh penjahat internet, umumnya untuk menyebarkan spam.

Kendati demikian, Didin mengatakan, virus menempati posisi pertama insiden keamanan di Indonesia. Penyebabnya tak lain adalah masih banyaknya pengguna aplikasi bajakan di Tanah Air. “Kalau menggunakan platform Windows berlisensi, pasti software-nya senantiasa update. Kalau software-nya senantiasa update, tentu insiden keamanan karena virus makin minimal,” kata Didin.

Potensi Hacker Indonesia

Kalau ditanya, potensi besar apa yang dimiliki Indonesia, tak salah kalau kita menjawab sumber daya manusia. Ya, Indonesia punya banyak orang pintar. Tapi, kenapa masalah keamanan komputer masih jadi kendala? Kenapa jumlah kejahatan yang menyalahgunakan komputer masih banyak?

Tunggu dulu. Jangan langsung menyebut kata “hacker” sebagai tertuduh. Di Indonesia, masih banyak orang yang salah mengartikan hacker sebagai penjahat internet. Padahal, hacker sendiri ada banyak macamnya.

Anselmus Ricky, seorang praktisi TI yang memiliki nama maya “Th0r”, mengatakan, “Di awal kemunculannya pada tahun 1960-an. Istilah hacker dipakai untuk menyebut orang-orang jenius di bidang komputer. Mereka juga dikenal sebagai white hat hacker, alias hacker putih. Sedang yang jahat dan suka merusak disebut sebagai cracker atau black hat hacker.”

Ricky menyampaikan, selain hacker putih dan hitam, masih ada hacker biru dan abu-abu. “Istilah grey hat hacker biasa dipakai untuk menyebut orang yang masuk ke dalam sebuah website tanpa ijin, tapi tidak merusak. Ia hanya meninggalkan pesan dan nama, biasanya berbunyi “hacked by X (nama hacker)”. Kalau blue hat hacker dipakai untuk menyebut orang yang mengajar tentang keamananan sistem,” jelasnya.

Tentang potensi hacker di Indonesia, James Purnama, Coordinator of ICT & IS Department Swiss German University-Asia, berpendapat, siapa saja yang paham tentang sistem―atau administrator sistem―berpotensi menjadi hacker. “Teman dari administrator sistem pun bisa jadi seorang hacker,” katanya.

Hal menarik dituturkan oleh Ketua ID-SIRTII, Richardus Eko Indrajit. Dia mengatakan, ID-SIRTII berencana untuk mengajukan pelajaran security management untuk masuk dalam kurikulum wajib di fakultas ilmu komputer. Jepang sudah tahu ke mana dunia TI-nya akan dibawa, yaitu bidang robotika. Ia berpendapat, Indonesia yang sering keluar sebagai juara hacking bisa fokus untuk membawa TI-nya ke bidang keamananan.

“Jadi, orang-orang yang ingin mencari ahli security, bisa mencarinya di Indonesia. Sama seperti orang mencari bibit pecatur akan menengok Rusia yang terkenal sebagai gudang pemain catur hebat,” katanya.

Hacker Beretika

James menuturkan, kegiatan cracking di Indonesia banyak dilakukan oleh anak-anak muda, kebanyakan anak SMA dan mahasiswa. Asal Anda tahu, para hacker-wannabe, orang-orang yang pengin menjadi hacker, yang umumnya berusia muda, kebanyakan belum bisa berpikir secara dewasa. Mereka kerap menjajal kemampuannya demi nama dan gengsi. Tanpa pengarahan, mereka bisa menyalahgunakan ilmunya untuk berbuat kejahatan. Mencari untung lewat carding, kejahatan yang memanfaatkan kartu kredit, misalnya.

Meski masih dianggap kontroversial, ternyata banyak orang tertarik untuk tahu lebih dalam tentang hacking. Mereka umumnya kaum muda. Hal itu juga bisa dilihat dari penuhnya bangku penonton di ajang Hacker’s Day, yang digelar bersamaan dengan Festival Komputer Indonesia, di JCC, Kamis (12/6). Mayoritas peserta acara tersebut adalah kaum muda.

Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan agar potensi anak-anak muda ini tidak disalahgunakan? Alih-alih menggunakan kemampuan mereka untuk berbuat jahat, bukankah lebih baik jika mereka diajak bekerja sama untuk menjaga sistem dan server?

Jika ditanya, ada berapa banyak hacker di Indonesia, jawabannya belum ada karena belum pernah ada survei yang dilakukan untuk menghitung jumlah mereka. Namun, jika ditanya, ada berapa jumlah hacker di Indonesia yang memiliki sertifikat, Tin Tin Hadijanto, wakil dari lembaga sertifikasi hacker EC Council, bisa menjawabnya. “Di lembaga kami, sudah ada 250 orang hacker beretika yang certified,” katanya.

Inilah fungsi lembaga sertifikasi hacker: membangun kesadaran orang-orang jenius di bidang komputer tentang keamanan. Bukankah untuk menghentikan serangan hacking, kita membutuhkan kemampuan hacker menerobos sistem dan jaringan? Jasa hacker putih yang beretika bisa disewa oleh perusahaan untuk mengamankan sistem dan jaringan mereka.

Seperti dikatakan oleh Prof.Eko Indrajit, memasuki era globalisasi, berbagai batasan akan hilang, dan kebutuhan akan keamanan semakin tinggi. Jadi, kenapa kita tidak memandang hacker dengan cara yang baru, sebagai partner kreatif yang bisa digandeng untuk mengatasi masalah keamanan?

Sisi negatif teknologi bagi kehidupan manusia

Sisi Negatif Teknologi Bagi Kehidupan Manusia duapuluh tahun mendatang.

 

Perlu diketahu bahwa tidak ada satu teknologi pun yang mampu menahan gelombang negatif teknologi seperti misalnya pornography online. Gelombang pornography online akan terus menerus menyerang masyarakat, pornography hanya dapat diatasi dengan pembinaan mental yang baik dari para orang tua sejak dini dengan bantuan kebijakan-kebijakan pemerintah. Seperti kebanyakan kejahatan lain didunia teknologi internet bahwa laju arus negatif ini harus dikontrol melalui mekanisme-mekanisme yang saling terintegrasi dari segenap komponen masyarakat dan pemerintah, bukan di Berangus. Percayalah bahwa memberangus kejahatan teknologi akan seperti men cat es batu, artinya sebuah pekerjaan yang sia-sia dan menghamburkan uang saja.

Pernahkan anda menggenggam pasir ? semakin digenggam maka pasir akan semakin keluar, demikian pula bila tidak digenggam tentu juga akan tumpah, namun cobalah untuk menggenggamnya dengan perasaan, jangan terlalu di tekan, maka akan sedikit pasir yang keluar dari tangan anda. Cobalah untuk memperlakukan teknologi seperti itu, karena dijamin bahwa semakin anda mencoba untuk memberangus sisi negatif teknologi maka ’mereka’ akan berubah warna dan bentuk untuk menjelma menjadi sesuatu bentuk yang lain namun berisi sama.

Maka dari itu saya mencoba untuk mengajak anda mencoba menelaah beberapa hal yang dapat membuat kita kehilangan ’sesuatu’ yang merupakan peradaban milik manusia.

 

  1. Manakala Teknologi Transportasi dan Delivery sedemikian canggihnya memanjakan manusia , sehingga pada saat orang-orang butuh makan, pakaian dan perumahan tinggal diantar dengan pilihan menu dan pembayaran yang dilakukan via handphone dan internet, bekerja dapat dikerjakan dirumah dengan fasilitas Virtual Office dengan jaringan online,Kekantor dapat dilakukan dengan duduk manis seiring berkembangnya teknologi transportaasi elektronik, seperti busway, kereta listrik elektronikdan sebagainya, maka berhati-hatilah karena  anda akan memiliki ketahanan fisik yang sangat lemah dan gampang terserang penyakit karena jarang bergerak dan berjalan kaki, jarang terkena matahari, mulai mengkonsumsi obat-obatan untuk meningkatkan stamina, mulai malas mengerjakan sesuatu sendiri karena semua pekerjaan ada di menu pilihan handphone atau laptop anda.

 

  1. Bertemu keluarga jarak jauh tanpa pertemuan fisik seakan tiada batasan waktu dan tempat, mengakibatkan hubungan antara sesama manusia akan semakin jauh, tidak akan ada lagi rasa sayang yang dapat dirasakan seperti masa-masa orang tua kita dulu. Dengan adanya Teleconference, video conference, voice conference maka anda dapat bertemu siapapun yang anda inginkan setiap saat dan setiap waktu, tanpa anda sadari bahwa bukan hal seperti itu yang diinginkan anak-anak anda, orangtua anda, saudara anda. Mereka butuh belai kasih sayang anda, merasakan sentuhan tangan anda, merasakan airmata anda, merasakan ciuman anda, merasakan tangan mereka anda cium. Artinya teknologi dapat membuat hilangnya sentuhan rasa kasih sayang dimuka bumi ini.

 

  1. Semakin canggihnya teknologi yang digunakan untuk menyimpan data ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk membantu pemetaan pikiran yang digunakan untuk data pribadi, photo,  jadwal meeting, jadwal ketemu keluarga, jadwal week end, rutinitas pribadi , Maka berhati-hatilah bahwa anda sedang melemahkan otak anda. Dulu orang senang mengingat sesuatu dengan pikirannya, baik mengingat jadwal, mengingat pelanggan mereka, mengingat masa-masa indah bersama keluarga, mengingat tanggal-tanggal penting baik memori atau janji. Dengan teknologi yang tersedia anda tidak perlu untuk mengingat hal tersebut, anda hanya cukup mengingat ” DIMANA SAYA SIMPAN LAPTOP SAYA ”  karena semua anda salin disitu tanpa harus mengingatnya.

 

  1. Bekerja dilakukan dengan virtual office secara online dirumah, waktunya lunch anda pesan makanan melalui nomor-nomor hotline, mandi dirumah, kemudian rutinitas ini dilakukan lagi besok pagi terus menerus. Akibat yang timbul adalah anda menjadi seseorang yang individualistis, bagaimana tidak ? anda tidak pernah berhubungan dengan banyak orang, bertemu pelanggan dan masyarakat hanya lewat jaringan online, anda sudah tidak terbiasa berbasa basi , membaca karakter orang secara fisik, anda tidak dapat membedakan mana orang yang berbohong ataupun tidak didunia nyata. Anda hanya peduli dengan diri anda sendiri, tidak peduli dengan orang lain karena tidak ada hubungan emosional antara anda dengan orang lain.

 

  1. Berapa banyak penelitian menyebutkan , Sinyal – sinyal Handphone dapat merusak jaringan otak dan menyebabkan radiasi, Berlama-lama didepan komputer dapat merusak mata , Menggunakan Earphone terlalu sering membuat telinga anda tidak peka terhadap suara dari luar , Beberapa RfID ( radio frekwensi Identified ) yang sudah mulai ditanam dalam bentuk chip di kulit manusia mulai menularkan virus-virus komputer ke tubuh inangnya dan banyak lagi perkembangan teknologi mesin yang dapat merusak Fungsi-fungsi ditubuh manusia. Banyak pengaruh negatif itu tidak kita sadari selama ini.

 

Kesimpulannya adalah dengan tidak melakukan kontrol terhadap sisi negatif dari teknologi ini maka anda secara tidak sadar melakukan hal sebagi berikut ini :

 

  1. Melemahkan ketahan fisik anda dan gampang terserang penyakit.
  2. Hilangnya sentuhan rasa kasih sayang di muka bumi.
  3. Lemahnya otak dari aktifitas berfikir.
  4. Menjadi Individualistis.
  5. Memberikan radiasi dan Merusak jaringan otak anda, Merusak mata , membuat telinga anda tidak peka terhadap suara dari luar, merusak tubuh dengan menularkan virus-virus komputer ke tubuh anda.

Itulah yang akan terjadi pada diri kita dan generasi kita mendatang.  Teknologi jangan digunakan sebagai pengganti adab hidup anda, namun jadikanlah sebagai ’Pembantu’ pekerjaan anda. Pengganti hidup dan ’Pembantu’ adalah sebuah hal yang hanya dibatasi oleh selembar kertas saja, perbedaannya sangat tipis. Saking tipisnya banyak dari anda yang tidak dapat membedakannya.

5 Kelas Besar Keamanan System

Dalam dunia Keamanan System Informasi secara umum dikenal beberapa hal yang dapat diklasifikasikan kedalam kelas – kelas besar masing – masing sebagai berikut :

1. Human / Perpetrator & victim (  Pelaku dan korban )

Antara pelaku dan korban sering kali yang kita ingat hanya pelakunya saja, misalnya hacker, cracker, kiddies dan lain-lain, namun tanpa disadari victim atau korban sangat perlu di perhatikan keberadaannya. Sampai saat ini belum ada teori-teori yang mengangkat tentang jenis atau klasifikasi korban, misalnya korban atas nama pribadi, korban atas nama perusahaan, group atau kelompok , atau dapat pula korban di klasifikasikan berdasarkan tingkat kerugiannya, dan lain sebagainya.

2. Threat  ( Ancaman )

Ancaman selama ini hanya banyak di bahas dikelas, namun tidak banyak yang mengemukakan ancaman di masyarakat. Masyarakat hanya mengenal apabila sudah terjadi “ Serangan “, Padahal dalam melakukan sosialisasi tentang keamanan system informasi di masyarakat , hal yang penting dilakukan adalah mengenalkan ‘ancaman’ bukan ‘serangan’, Perlu di ketahui bahwa Serangan dimulai dengan Ancaman, dan tidak serangan sebelum adanya ancaman.

Ada beberapa metode yang mengklasifikasikan ancaman, salahsatunya adalah STRIDE Method ( metofde stride ) Stride sendiri merupakan singkatan dari Spoofing, Tampering, Repudiation, Information disclosure, Denial of service, Elevation fo privilege.

3. Attack  ( Serangan )

Setelah mempelajari berbagai jenis ancaman masyarakat sebetulnya secara tidak langsung akan mengerti sendiri jenis serangan yang akan timbul. Serangan artinya tindakan yang dilakukan penyerang dengan menggunakan metode atau teknik tertentu dengan berbagi tools yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dengan objek tertentu  baik terarah maupun random ( acak ). Serangan yang umum terjadi terhadap system lazim disebut dengan Penetration .

4. Method ( Teknik / Metode serangan ).

Teknik atau metode adalah cara atau prosedur yang di rancangan sedemikian rupa untuk mendukung sebuah serangan. Contoh metode atau teknik yang sering digunakan adalah Phishing.

5. Tools ( Alat ).

Tools atau alat yang digunakan umumnya berupa perangkat lunak atau perangkat keras pendukung , Tools dapat diartikan pula sebagai perangkat pendukung baik bagi attacker ( penyerang )  atau bagi kepentingan pertahanan dan forensic.

Tools yang berkembang samngat banyak jumlahnya hingga mencapai ribuan variannya, salah satu yang terkenal digunakan untuk menyerang adalah Trojan.