Permasalahan Patent

Enkripsi dengan menggunakan kunci publik sangat membantu dalam
meningkatkan keamanan informasi. Salah satu algoritma yang cukup
populer digunakan adalah RSA. Algoritma ini dipatenkan di Amerika
Serikat dengan nomor U.S. Patent 4,405,829 yang dikeluarkan pada tanggal 20 Agustus 1983. Paten yang dimiliki oleh Public Key Partners (PKP, Sunnyvale, California) ini akan habis di tahun 2000. RSA tidak dipatenkan di luar daerah Amerika Utara. Bagaimana dengan penggunaan algoritma RSA ini di Indonesia? Penggunaan enkripsi di luar Amerika ini merupakan sebuah topik diskusi yang cukup seru.
Secara umum paten di bidang teknologi harus dipertimbangkan dengan
matang. Pasalnya, pada kenyataannya paten lebih banyak berpihak kepada perusahaan besar. Untuk mendaftarkan paten membutuhkan biaya yang cukup besar. Jika paten ini dilanggar, pemilik paten yang tidak memiliki uang harus berjuang keras untuk melawan perusahaan besar yang melanggar paten tersebut. Hanya perusahaan besar saja yang sanggup mempertahankan paten.
Paten juga dapat menghambat pengembangan produk. Bayangkan, untuk membuat sebuah printer dibutuhkan lebih dari 1000 paten. Bagaimana perusahan kecil di Indonesia bisa berkompetisi dengan perusahaan besar di luar negeri?
Paten dapat membuat harga produk menjadi lebih mahal. Contoh kasus
adalah paten obat HIV/AIDS. Penduduk miskin dari Afrika dan India tidak dapat membeli obat yang mahal harganya. Pada mulanya tidak ada obat generik untuk penyakit ini karena masalah paten tersebut. Untuk kasus ini, Pemerintah Afrika Selatan menerapkan “compulsury license” sehingga perusahaan lokal dapat memproduksi obat tersebut dengan harga yang lebih terjangkau.

Paten Software “Computer programs are as abstracts as any algorithm can be.”
(Prof. Donald Knuth) Salah satu topik yang baru mendapat perhatian adalah paten software (software patent). Pada awalnya, software dilindungi dengan copyright.
Namun saat ini Amerika mempelopori penerapan paten untuk software.
Apanya yang dipatenkan dalam software? Algoritmanya.
Masalahnya, algoritma yang dipatenkan mulai “aneh”. Maksudnya hal-hal yang sederhana dipatenkan sehingga menyulitkan inovasi. Bayangkan, untuk membuat program sederhana mungkin seorang programmer harus melisensi berbagai paten. Belum apa-apa sudah ada biaya yang harus dikeluarkan. Contoh paten yang dapat menghambat inovasi:
• Algoritma Lempel-Ziv (LZW) banyak digunakan untuk compression
gambar. Sebagai contoh, algoritma yang digunakan untuk menyimpan
gambar dalam format GIF menggunakan algoritma LZW ini. Jadi, ketika
anda membuat sebuah program untuk memperagakan GIF, maka anda
harus membayar royalty kepada pemilik algoritma LZW ini. Saat buku
ini ditulis, Unisys adalah pemilik paten LZW ini. Itulah sebabnya saat ini
banyak situs web atau program gambar yang menggunakan format PNG.
• One click e-commerce. Jika anda membuat sebuah situs web yang
melakukan transaksi, misalnya pembeli memilih barang kemudian
memasukkannya dalam “shopping cart”, dan kemudian membayarnya,
maka ada kemungkinan anda melanggar paten (US patent 5,960,411,
“Method and system for placing a purchase order via a communications
network”) yang didaftarkan oleh Amazon ini. Implementasi hal seperti
itu dengan cookie merupakan hal yang sangat mudah (trivial) dan sudah
dilakukan oleh orang banyak.
• Pada tahun 1980-an perusahaan XyQuest membuat produk pengolah
kata dengan nama XyWrite. Produk itu sangat populer pada kurun waktu itu. Namun pada suatu saat, perusahaan itu harus menarik fitur
“automatic correction and abbreviation expansion” dari produk XyWrite
karena dianggap melanggar paten yang dimiliki oleh perusahaan lain.
Akibatnya pengguna software XyWrite tidak dapat menggunakan fitur
tersebut. Jika anda berpikir untuk memasukkan fitur tersebut dalam
program pengolah kata yang anda buat, siap-siap membayar royalty atau
dituntut.
Di Amerika, meski paten ini berlaku, banyak orang yang tidak setuju. Pakar komputer Donald Knuth1 bahkan melayangkan surat ke Kantor Paten Amerika agar paten software ini dicabut karena akan banyak orang Amerika yang pindah ke luar negeri untuk menghindari paten ini. Thomas Jefferson,bahkan mengatakan bahwa “ide tidak dapat dipatenkan”.

Di Eropa, saat buku ini ditulis, masih terjadi perdebatan seru akan paten software ini. Untuk sementara ini, mereka masih tetap menolak penerapan paten dalam software.

Untuk Indonesia, saya berharap agar paten software tidak terjadi. Regim
copyright sudah cukup untuk software. Jika kita juga ikut menerapkan patensoftware, saya khawatir hal ini akan menjadi hambatan tambahan bagi pengembang software di Indonesia (dan dunia pada umumnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: