Pemanfaatan Tehnologi Informasi untuk Percepatan Pariwisata Bangka Belitung

Slide1Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Design by Yuri ; Guide refferences : Prof. DR.Eko Indrajit

Advertisements

Security system for business

choice 1

choice 2

attacking flow

Threat terhadap sistem anda dihadang dari ISP ?

Ada yang menarik dari materi perkuliahan sabtu kemaren, Beberapa threat menggunakan  Script yang di Injeksikan ke Address bar pada URL target untuk melakukan kegiatan hacking, walaupun itu sekedar mendapatkan username dan pass id , antisipasi dapat dilakukan dengan memperbaharui source code program pada sistem ( karena sistem ibarat tubuh, apabila semakin diserang maka akan semakin ” imun ” terhadap penyakit ) , atau membuat sebuah program pemantau untuk mengaudit kinerja  dan performansi sistem anda dalam menahan ancaman dan serangan. Misalnya sebut saja  Sql Injection.

Pertanyaannya adalah apabila dibuat sebuah secure software yang dapat memantau kegiatan Threat maupun attack tersebut , tetapi dengan syarat sebagai berikut :

1. Software pemantau tersebut di tanam di ISP

2. Software pemantau tidak bekerja didalam sistem dan database, tetapi hanya memantau kegiatan ancaman dan serangan dari luar sistem anda, sehingga ISP tidak dapat melihat isi dari kegiatan anda didalam sistem dan isi database anda.

Kemudian disusul lagi dengan pertanyaan berikut ini :

1.  Apabila hal ini diterapkan, bayangkan berapa banyak biaya yang akan dihemat untuk membangun sebuah sistem secure software pada perusahaan masing-masing, dibandingkan dengan  ” saweran ” anggap saja 15 s/d 20 perusahaan pengguna, membuat sebuah software  untuk mengamankan sistem mereka,pelaksanaannya dapat  di outsource kan ke ISP terdekat.

2. Mungkinkah Threat ( ancaman ) dapat diantisipasi sebelum menjadi sebuah serangan ( attack ) dengan mempelajari pola-pola serangan yang sering terjadi ?

3. Pertanyaan ketiga adalah : mungkinkah hal ini diterapkan di Indonesia baik dari sisi hukum, Business, maupun tehnologi.

4. Udah ada perusahaan atau konsultan yang bikin blon ya ?

Depkominfo Takut Kasus Prita Ancam UU ITE

Ardhi Suryadhi – detikinet


Prita (Ist.)

Jakarta – Kasus yang menyeret Prita Mulyasari, pasien RS Omni International Tangerang yang ditahan lantaran ‘mengeluh’ di internet dikhawatirkan berbuntut panjang. Salah satunya terkait paradigma masyarakat terhadap UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Kabag Humas dan Pusat Informasi Gatot S. Dewa Broto mengatakan, dengan kejadian tersebut, pihaknya khawatir jika gelombang penolakan terhadap UU yang masih seumur jagung itu bertambah besar.

“Terutama bagi sejumlah pihak yang kemarin menyatakan penolakannya terhadap UU ITE untuk dijadikan sebagai serangan balasan. Hanya saja isunya sekarang bergeser,” ujarnya kepada detikINET, Rabu (3/5/2009).

Di awal kehadirannya, UU ITE memang langsung mendapat berbagai jalan terjal untuk diimplementasikan. Salah satu pasal yang paling diincar adalah Pasal 27 ayat 3, yang mengatur soal pembuatan dan pendistribusian informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Edy Cahyono, Nenda Inasa Fadhilah, Amrie Hakim, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), serta Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers) adalah pihak-pihak yang sempat menggoyang isi UU ITE ini.

Pun demikian, jalan terjal UU ITE ini rupanya masih mampu dilalui. Dalam sidang terakhir, Mahkamah Konstitusi tetap menolak uji materi terhadap UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE ini.
( ash / wsh )

‘Kejaksaan Salah Terapkan Pasal di UU ITE’

Aprizal Rahmatullah – detikinet


prita di FB

Jakarta – Kejaksaan dinilai salah menerapkan pasal 27 ayat (3) UU ITE dalam menjerat Prita Mulyasari (32), yang diduga mencemarkan nama baik RS Omni Internasional, Tangerang. Pasal 27 tersebut hanya dapat diberlakukan pada kasus pencemaran nama baik terhadap orang/individual, bukan badan hukum.

“Pasal 27 ayat (3) tidak bisa dikenakan pada badan hukum. Pencemaran nama baik itu berkaitan reputasi person/individu bukan badan hukum,” jelas Koordinator Divisi Advokasi HAM Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Anggara kepada detikcom, Rabu (3/6/2009).

Menurut Anggara, pasal 27 ayat (3) UU ITE sejak awal memang sudah mengandung kontroversi. Pasal 27 ayat (3) tersebut berbunyi:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

“Sejak awal kami memang menolak adanya aturan tentang pidana penghinaan atau disebut dekriminalisasi penghinaan,” tambahnya.

Anggara menjelaskan, aturan delik penghinaan dalam UU ITE sebenarnya tidak perlu dicantumkan, karena aturan tersebut sudah terkandung dalam KUHP.

“Tidak ada negara hukum di negara manapun yang mempunyai delik penghinaan yang diatur di banyak tempat seperti Indonesia ada di UU ITE, UU Penyiaran, dan KUHP,” kata Anggara.

Jaksa, lanjut Anggara, telah salah menafsirkan materi dari UU ITE. “Itu jaksanya tidak tepat, kami minta supaya majelis hakim menyingkirkan sementara pasal UU ITE tersebut,” tandasnya. ( ape / faw )

Depkominfo: UU ITE Jangan Dipandang Sebagai ‘Monster’

Ardhi Suryadhi – detikinet


Ilustrasi (Ist.)

Jakarta – Depkominfo berharap masyarakat jangan antipati terhadap Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) setelah Prita Mulyasari, pasien RS Omni International Tangerang yang ditahan lantaran ‘mengeluh’ di internet terjerat UU itu.

“UU ITE jangan dipandang sebagai monster”, demikian dikatakan Kabag Humas dan Pusat Informasi Gatot S. Dewa Broto ketika berbincang dengan detikINET, Rabu (3/6/2009).

Ia menjelaskan, awal kehadiran UU ITE tentunya dimaksudkan untuk mengatur berbagai kegiatan yang melintas di dunia elektronik, semisal internet. Jadi lanjutnya, tidak perlu rasanya masyarakat menjadi merasa terancam eksistensinya seiring kehadiran UU ini.

“UU ITE itu kan dibentuk untuk membina masyarakat, bukan malah untuk menjerat mereka. Jadi diharapkan UU ini disikapi dengan bijak, jangan dilihat dengan kaku,” tukas Gatot.

Dukungan terhadap UU ITE ini juga disuarakan oleh Donny A. Sheyoputra, advokat yang juga pemerhati cybercrime. Menurutnya, UU ITE memang bukan dicetuskan untuk mengkerangkeng kebebasan menyuarakan pendapat di dunia maya. Namun lebih kepada untuk mengaturnya.

“Terlebih, beberapa waktu lalu, Indonesia kejahatan cyber di Indonesia merajalela,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai Kepala Perwakilan Business Software Alliance Indonesia ini kepada detikINET.

Pun demikian, lanjut Donny, penerapannya UU ITE juga harus dilakukan dengan hati-hati. “Seperti kasus Prita misalnya, kalau RS Omni itu dikatakan sebagai pembohong besar, maka harus dibuktikan kalau dia (Prita-red.) benar-benar telah dibohongi. Jadi harus dikupas satu per satu pernyataannya,” pungkasnya. ( ash / faw )

Rangkul Islam, Obama Andalkan Facebook

Fino Yurio Kristo – detikinet


Obama (washingtonpost)

Kairo – Situs jejaring sosial dan SMS jadi andalan presiden Amerika Serikat, Barack Obama untuk coba menjalin hubungan yang lebih erat dengan dunia Islam, utamanya di Timur Tengah.

Seperti dikatakan Sekretaris Media Gedung Putih, Robert Gibbs, pemerintah AS berencana mengujicoba media internet untuk menyebarluaskan pidato Obama yang dikhususkan untuk masyarakat Muslim dunia. Kaum muda khususnya jadi sasaran dalam program ini.

Dikutip detikINET dari CNN, Kamis (4/6/2009), tujuan program itu adalah agar orang tak hanya menyaksikan pidato Obama tersebut namun juga dapat mendiskusikannya. Obama saat ini memang sedang mengadakan kunjungan ke negara-negara Muslim untuk menjalin dialog.

Departemen Luar Negeri AS berniat mengirim SMS tentang pidato Obama pada masyarakat dunia yang terdaftar di situs http://www.america.gov. SMS dikirim dalam empat bahasa yaitu bahasa Arab, Persia, Urdu dan Inggris. Menurut Gibbs, user yang dikirimi SMS bisa langsung membalas secara real time.

Situs Facebook jadi andalan lain untuk menghantarkan pidato Obama yang akan berlangsung di Cairo University di Kairo, Mesir. Hal ini terkait popularitas Facebook yang tak terbendung di kalangan masyarakat Islam. Situs jejaring lainnya juga tak ketinggalan dimanfaatkan termasuk MySpace dan Orkut. ( fyk / faw )