Perdagangan Informasi di Internet

Pak Ahmad adalah seorang petani tembakau di kawasan Sulawesi Selatan. Setiap kali panen terjadi, yang dilakukannya adalah pergi ke wartel terdekat yang menyediakan jasa koneksi internet, dan meminta tolong keponakannya untuk mencari tahu berapa harga tembakau dunia dan apakah ada orang-orang yang tertarik membeli darinya. Ternyata banyak sekali pihak-pihak yang tertarik untuk membeli tembakau Pak Ahmad karena kualitasnya yang baik, dengan harga lima sampai sepuluh kali lipat dari yang ditawarkan tengkulak atau koperasi setempat. Bahkan calon pembeli asing tersebut bersedia langsung mengangkutnya dari perkebunan Pak Ahmad agar yang bersangkutan tidak perlu repot-repot.

Lain halnya dengan Ibu Sunaryo, yang baru saja ditinggali warisan uang tunai sebesar 100 juta oleh suaminya yang baru saja meninggal dunia. Sebelum memutuskan untuk menyimpan uangnya di bank-bank lokal di daerah tempat tinggalnya di Jawa Barat, biasanya yang bersangkutan memanggil menantunya untuk mencari tahu apakah ada orang-orang yang butuh pinjaman dengan bunga yang lebih tinggi dari tawaran bank. Biasanya menantunya langsung mencari warung internet yang menjamur di daerahnya, dan mencoba browsing untuk mencari pihak-pihak yang membutuhkan uang cepat melalui salah satu situs call for money. Ternyata menantunya menemukan beberapa informasi dari beberapa orang dari beragam propinsi di Indonesia, yang sangat mendesak membutuhkan uang cash sebesar 75 juta, dan bersedia mengembalikannya dua kali lipat dalam waktu 1 (satu) bulan dengan jaminan sebuah mobil kijang. Langsung saja menantu Ibu Sunaryo menelepon yang bersangkutan dan membuat perjanjian.

Di salah satu desa terpencil di kawasan Nusatenggara Barat, berbaringlah Asti, seorang gadis kecil yang telah bertahun-tahun menderita penyakit parah yang aneh. Dikatakan aneh karena hingga kini penyakit semacam itu tidak pernah dikenal dalam dunia ilmu kedokteran. Telah berbagai upaya dilakukan oleh orang tuanya dalam mencari bantuan dana agar Asti dapat dibawa paling tidak ke rumah sakit kabupaten untuk dilakukan diagnosa dan memperoleh upaya-upaya penyembuhan. Tidak banyak saudara-saudaranya di seluruh tanah air yang mengenal dan perduli pada nasib Asti dan memberikan uluran tangannya, sehingga mustahillah untuk mengumpulkan uang banyak bagi usaha kesembuhannya. Untunglah ada Norma, mahasiswa teknik komputer yang sedang melakukan kuliah kerja nyata di desa tempat Asti tinggal. Segera dipotretlah Asti dan hasil scanning foto tersebut, atas persetujuan kedua orang tua-nya disebarkan olehnya ke berbagai institusi kesehatan yang ada di Amerika dan Eropa, termasuk ke WHO. Yang terjadi adalah dalam waktu tidak kurang dari satu minggu, berbagai tawaran melalui email dan fax diterima oleh orang tua Asti, yang pada intinya adalah keinginan lembaga-lembaga penelitian di bidang kesehatan untuk membawa Asti ke negerinya, dan mendapatkan proses pelayan kesehatan secara gratis sampai yang bersangkutan dinyatakan sembuh. Wajarlah hal tersebut terjadi, karena kasus penyakit Asti dianggap sebagai hal istimewa yang sangat bermanfaat bagi keperluan penelitian mereka demi peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Ketiga contoh sederhana di atas mematahkan teori-teori manajemen yang mengatakan bahwa sangat sulit untuk mencari manfaat teknologi informasi bagi masyarakat golongan bawah, atau rakyat kecil. I-Commerce (Internet Commerce) merupakan suatu salah satu varian aktivitas di dalam ekonomi digital (Indrajit, 2000), dimana nilai atau value dari sebuah informasi diperdagangkan atau dipertukarkan melalui media internet. Adalah merupakan hal yang percuma kalau tidak boleh dikatakan sia-sia jika banyak orang mencoba untuk  menerapkan teknologi informasi dengan cara “memaksa” rakyat kecil semacam petani, pedagang, buruh, dan lain-lain untuk belajar menggunakan komputer. Harap diperhatikan, bahwa esensi dari kata “teknologi informasi” atau “sistem informasi” adalah terletak pada kata “informasi”, yaitu bagaimana manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya melalui penguasaan akan informasi yang relevan dengan aktivitas sehari-hari. Teknologi merupakan alat bantu agar proses penciptaan dan penyaluran informasi menjadi lebih cepat, murah, dan berkualitas.

Ketiga ilustrasi di atas juga merupakan sebagian kecil dari berbagai peluang dan ancaman yang akan terjadi di era globalisasi informasi. Bayangkan yang akan terjadi seandainya sistem otonomi daerah atau federal diberlakukan, bersamaan dengan semakin mudah dan cepatnya informasi dari seluruh dunia mengalir. Secara prinsip, bagi Indonesia, konsep I-Commerce lebih tepat untuk diterapkan dibandingkan dengan E-Commerce. Alasannya adalah karena selain memberikan manfaat nyata yang secara langsung dapat dirasakan oleh penduduk Indonesia yang mayoritas berada pada level menengah ke bawah, secara bersamaan merupakan usaha untuk mendidik masyarakat dalam memahami nilai strategis dari informasi. Penerapan I-Commerce juga merupakan pilot project yang baik untuk mulai merasakan bagaimana “sakitnya” atau pun besarnya tantangan yang dihadapi seandainya perdagangan bebas dibuka. Ketiga contoh di atas memperlihatkan pula bahwa kecenderungan yang akan terjadi pada era pasar bebas nanti adalah keinginan dari masing-masing individu untuk melakukan wealth maximization dalam arti kata mencari manfaat terbesar yang mungkin mereka dapatkan untuk memperbaiki kehidupan. Buat apa seseorang menjual produk atau jasa yang dimiliki ke pemerintah pusat dengan harga 500 perak, atau ke rekan-rekan di propinsi lain dengan harga 1000 perak, jika ada pengusaha di Brunei misalnya yang sanggup membayar dengan harga 1 juta perak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: