‘Game Online Sebabkan Kehamilan dan Kecanduan Obat’

Fino Yurio Kristo – detikinet


Ilustrasi (ist)

Beijing – Sepertinya pemerintah China tak akan berhenti mengkritik game online ataupun sisi negatif dunia cyber. Belum lama ini, saluran berita resmi pemerintah China menyalahkan popularitas beberapa game online sebagai penyebab masalah seperti kecanduani obat, kehamilan remaja bahkan pembunuhan.

Dalam program bertajuk “Confession of a Murderer — Focus on Pornography and Violence in Online Games”, stasiun China Central Television (CCTV) meliput tentang seorang pria yang dihukum di sebuah penjara seumur hidup.

Diklaim bahwa pria tersebut melakukan pembunuhan karena butuh uang untuk membeli barang virtual dari game. “Dia membunuh 5 orang, dan alasan dia menceburkan diri di dunia kejahatan adalah karena adiksinya pada video game kekerasan,” demikian tersebut dalam laporan itu.

Selanjutnya, laporan beralih pada berita mengenai seorang gadis 14 tahun yang hamil dengan pria yang ditemuinya via game online. Sang gadis memainkan game berunsur negatif bernama ‘Audition’, yang disinyalir memicu kaum muda senang melakukan hubungan intim.

Bulan ini, CCTV juga sudah menayangkan laporan bagaimana sebagian kaum muda ketagihan minum obat untuk menjaga stamina kala main game. Sebab, untuk bermain game semalaman suntuk misalnya, mereka jelas membutuhkan doping tenaga ekstra.

Pemerintah China sudah sering memblokir berbagai game online karena dinilai meracuni kaum muda. Dilansir ComputerWorld dan dikutip detikINET, Senin (28/12/2009), China memiliki jumlah pengguna internet terbanyak di dunia dan 210 juta di antaranya memainkan game online. ( fyk / ash )

Seks Online Makin Akrab dengan Anak-anak

Fino Yurio Kristo – detikinet


ilustrasi (ist)

Jakarta – Salah satu sisi kelam dunia internet, yakni hal-hal berbau cabul nampaknya makin akrab dengan anak-anak di sepanjang tahun 2009 ini.

Ini terlihat dari hasil penelitian vendor keamanan Symantec, yang mengungkap 100 topik pencarian paling populer tahun ini di kalangan anak-anak anak usia 13-18 tahun.

Memprihatinkan, karena kata kunci seks dan porno ternyata menduduki salah satu posisi tertinggi dalam daftar tersebut.

Berdasar kategori jenis kelamin, topik seks bercokol di tempat keempat pencarian paling populer bagi anak lelaki dan di posisi kelima daftar pencarian anak perempuan.

Anak laki-laki sepertinya lebih tertarik pada hal-hal berbau mesum, karena topik porno bertengger di tempat kelima dalam daftar mereka. Sementara anak perempuan cenderung menggemari subyek seperti musik, acara televisi, film dan selebritis.

Selebritis yang paling banyak dicari adalah Michael Jackson, meski posisinya di luar 10 besar. Seleb seperti Miley Cyrus, Britney Spears, dan Jonas Brothers juga paling banyak diminati.

Seperti detikINET kutip dari Cnet, Senin (21/12/2009), untuk mengkompilasi daftar 100 besar ini, Symantec menganalisis 14,6 juta pencarian yang dilakukan via layanan Online Family Norton.

Berikut adalah salah satu hasil penelitian yang memuat 10 besar topik pencarian di kalangan anak-anak sepanjang 2009:

  1. YouTube
  2. Facebook
  3. Google
  4. Sex
  5. MySpace
  6. Porn
  7. Yahoo
  8. YouTube.com
  9. eBay
  10. WIkipedia

( fyk / rou )

Banjir Pedofilia Online dan Ledakan ‘Sexting’

Fino Yurio Kristo – detikinet


Ilustrasi (ist)

Jakarta – Perkembangan Teknologi Informasi (TI) bermanfaat besar bagi manusia. Celakanya, mereka yang berniat jahat tak mau ketinggalan mengadopsinya untuk berbuat kriminal. Tahun 2009, tercatat berbagai kasus kejahatan bertaraf kecil sampai luar biasa, terjadi karena perantaraan TI.

Fenomena cukup menonjol di tahun 2009 barangkali adalah banjir pedofilia online dan maraknya ‘sexting’ di kalangan remaja. Dua fenomena ini cukup sering jadi headline media massa dan menciptakan keprihatinan tersendiri.

Banjir Pedofilia Online

Kaum pedofil, yakni mereka yang punya kelainan tertarik secara seksual dengan anak kecil, terindikasi makin gemar mencari mangsa via internet di tahun 2009. Catatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap jumlah mencengangkan, 750 ribu penjahat seks membanjiri internet dan seolah berlomba mencari mangsa anak kecil.

Modus operandi para pedofil online umumnya mirip-mirip. Mereka memanfaatkan situs jejaring seperti Facebook atau chatting online dalam usaha mencari mangsa. Begitu mendapat sasaran potensial, bujuk rayu dilancarkan dengan satu tujuan, bertemu di dunia nyata dan melakukan hubungan terlarang.

Pelaku kejahatan seks online bisa berasal dari semua kalangan. Dalam sebuah kasus di Inggris, seorang dosen bereputasi internasional bernama Dr Trevor Jackson, dibekuk aparat setelah berhubungan seks dengan gadis yang baru berusia 13 tahun yang dikenalnya via internet.

Yang cukup menonjol di tahun 2009, para pelaku kejahatan cabul ini tak jarang adalah orang dekat korban. Bahkan para orang tua mereka sendiri. Seperti kejadian di kota London, di mana seorang ibu menyiarkan secara langsung tindak pelecehan seks anak-anak kandungnya via webcam.

Dalam kasus lain di Amerika Serikat, seorang ayah melalui internet mengajak anak kandungnya berhubungan seks. Sesudah lama tak bertemu, sang ayah menjumpai anaknya via dunia maya dan malah ingin melakukan aksi jahat.

Tahun 2009 juga diwarnai dengan tingginya kasus kaum pedofil membanjiri internet dengan gambar atau video porno bocah tak bersalah. Para pedofil banyak yang tega mengeksploitasi anak kecil untuk melakukan adegan seksual yang lalu diposting online.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap betapa luas peredaran pornografi anak online. Tercatat lebih dari 200 gambar porno anak diproduksi tiap hari dan keuntungan industri jahat ini mencapai 3 sampai 20 miliar dolar setahunnya.

‘Sexting’ Berujung Bunuh Diri

‘Sexting’ adalah kosakata Inggris baru, yang berarti fenomena berkirim konten seks via ponsel, bisa berupa teks atau gambar porno. Di tahun 2009, sexting meledak di kalangan remaja, bahkan dinobatkan sebagai finalis Word of the Year oleh New Oxford American Dictionary.

Sebuah survei yang dilakukan stasiun televisi anak muda MTV di Amerika Serikat baru-baru ini mengungkap, sepertiga anak muda di sana mengaku saling berkirim SMS atau foto porno dengan kekasih mereka via ponsel.

Dan ternyata, aksi ‘sexting’ bisa membawa dampak negatif luar biasa. Dalam beberapa kejadian, foto mesum tersebar luas dan membuat korban dipermalukan. Sebatas rasa malu tentu bisa dikategorikan wajar. Namun bagaimana jika korban ‘sexting’ memilih bunuh diri karena rasa malu yang sedemikian kuat?

Ya, di tahun 2009, seorang siswa perempuan asal Florida bernama Hope Witsell bunuh diri. Ia tak tahan menanggung malu setelah foto toplessnya beredar luas di kalangan teman-teman sekolahnya. Kasus Witsell barangkali sebuah titik kulminasi bahaya menjamurnya ‘sexting bagi’ remaja.

Sinergi Aparat, Pelaku Industri dan Keluarga

Fenomena negatif tersebut patut mendapat perhatian serius. Memang kejadiannya muncul di mancanegara, namun bukan tak mungkin segera marak pula di Indonesia.

Barangkali, pesatnya perkembangan teknologi di mancanegara yang sudah menyentuh semua kalangan masyarakat membuat hal-hal negatif tersebut jamak terjadi. Dan seiring perkembangan TI yang melonjak di Tanah Air, kewaspadaan patut ditingkatkan. Tindak pencegahan pantas dilakukan atau penyesalan yang akan datang belakangan.

Peran orang tua dan keluarga sangat diperlukan untuk menangkal dampak negatif internet. Mereka perlu memperhatikan serius apa yang diperbuat anaknya saat berselancar di dunia maya atau menggunakan ponsel, serta memberi pondasi iman kuat.

Pelaku industri juga harus berbuat semaksimal mungkin mengantisipasi efek negatif. Di tahun 2009, berbagai inisiatif telah dilakukan, misalnya sinergi antara raksasa internet AOL, Yahoo, dan Google menelusuri jutaan anggota di database 13 situs jejaring sosial untuk memburu penjahat seks.

Terakhir peran otoritas memegang peranan signifikan dalam menelurkan kebijakan melindungi kaum muda dari bahaya pedofil online atau sexting. Semoga di tahun 2010, sinergi ciamik dari aparat, pelaku industri dan keluarga mampu membendung dampak negatif di dunia TI, khususnya di Indonesia. ( fyk / ash )

20% Pebisnis Rapat Online Sambil Bugil

Fino Yurio Kristo – detikinet


ilustrasi (ist)

London – Semakin banyak pebisnis memanfaatkan cepatnya akses internet untuk rapat online melalui conference call, via laptop atau ponsel. Namun yang cukup mengagetkan, 20% pelaku rapat ini ternyata senang melakukannya dalam keadaan tanpa busana.

Fakta ini terungkap dalam survei yang digelar British Telecom (BT), perusahaan telekomunikasi asal Inggris. Sambil santai di rumah, para pebisnis mengaku melakukan conference call hanya dengan mengenakan piyama, celana dalam atau bahkan telanjang bulat.

Terungkap juga dalam survei ini kalau tempat paling populer melangsungkan conference
call
adalah di kamar tidur dan berikutnya kamar mandi. Beberapa responden mengaku sering pula melakukannya secara mendadak saat sedang berada di kendaraan, bahkan sebagian di tempat ski, pantai dan taman.

Berbagai suara khas rumah tangga juga tak ketinggalan sering nyelonong dalam rapat online ini. Misalnya, bayi menangis, gonggongan anjing, sampai bunyi toilet disiram.

detikINET kutip dari Telegraph, Senin (4/1/2010), BT memprediksi bisa mengurangi 700.000 pertemuan rapat konvensional di tahun 2008 lalu, dengan menggantinya melalui metode rapat conference call online.

“Semakin banyak orang yang melakukan konferensi adalah kabar bagus bagi kami. Hal ini juga bermanfaat memotong waktu perjalanan, biaya dan juga emisi CO2,” tukas Aaron McCormac, Chief Executive BT.

( fyk / rou )

Video Seks Lesbian Carmen Electra Bocor di Internet

Fransiska Ari Wahyu – detikinet


Carmen Electra

Jakarta – Video seks lesbian milik bintang cantik nan seksi, Carmen Electra bocor di internet. Muncul dugaan bahwa video ini sengaja disebar di internet untuk mempromosikan film atau acara TV baru.

Seperti dikutip detikINET dari TVNZ, Jumat (20/11/2009), dalam video tersebut, si model Playboy ini beraksi bersama seorang wanita berambut hitam. Tampak dalam aksinya, Electra menghisap sebotol sampanye.

Dalam video tersebut, Electra nyaris telanjang, hanya mengenakan pakaian dalam, stocking dan memakai sepatu high heels.

Electra bukan satu-satunya artis yang video seksnya pernah beredar. Beberapa waktu sebelumnya, video seks model PlayBoy lainnya, Pamela Anderson, juga pernah beredar. Demikian pula dengan Paris Hilton, video seksnya populer dengan judul One Night in Paris.

Namun, muncul spekulasi bahwa video seks lesbian Electra ini sengaja disebar di internet untuk promosi acara TV atau film baru. ( faw / fyk )

Posting Komentar Online Vulgar, Pekerja Dipecat

Fino Yurio Kristo – detikinet


Ilustrasi (inet)

Jakarta – Komentar online serampangan membuat seorang karyawan sekolah kehilangan pekerjaannya. Sang pekerja yang tak disebut namanya ini, memposting kalimat vulgar di situs St. Louis Post-Dispatch yang berbasis di Amerika Serikat.

Situs tersebut menayangkan artikel yang menanyakan tentang makanan tergila apa yang pernah disantap pembaca. Dilansir Huffingtonpost dan dikutip detikINET, Jumat (20/11/2009), para pembaca disarankan memposting jawaban paling aneh.

Nah, sang pekerja yang dipecat ini memposting sebuah komentar anonim bernada vulgar. Intinya, ia menyebut-nyebut soal bagian sensitif tubuh wanita.

Awalnya, komentar dihapus admin situs. Namun sang pemosting tetap ngeyel dan menulisnya kembali. Pihak situs rupanya tak terima. Kurt Greenbaum, Direktur Media Sosial di situs itu melacak IP addres sang komentator yang ternyata berasal dari sebuah sekolah setempat.

Greenbaum pun menghubungi sekolah bersangkutan. Sang pekerja dilaporkan langsung dipecat gara-gara postingannya, yang membuatnya bertengkar dengan kepala sekolah. Ia mungkin tak mengira komentar anonim yang dibuatnya membawa malapetaka.

Greenbaum memposting kasus tersebut dengan judul “Memposting komentar vulgar saat bekerja berisiko dipecat”. Di satu sisi ada yang memuji tindakan Greenbaum, namun di sisi lain ia juga dihujat karena dinilai melanggar privasi. ( fyk / faw )

Polisi Gagalkan Niat Mesum Dokter di Internet

Santi Dwi Jayanti – detikinet


user(Ist)

Alaska – Niat seorang predator internet untuk ‘menggerayangi’ anak kecil digagalkan pihak kepolisian.

John Mark Feltom (45), pria yang berprofesi sebagai dokter ini digelandang polisi di Anchorage International Airport, Alaska. Ia masuk jebakan, setelah sebelumnya diincar pihak berwenang karena memiliki niat busuk untuk ‘memanfaatkan’ anak dari seorang ayah yang ia jumpai di internet.

Sebelumnya polisi menyamar sebagai seseorang bernama Bob dan bertukar email dengan Felton. Dalam skenario yang dibuat polisi, ‘Bob’ menanyakan ketertarikan yang dimiliki Felton. Felton saat itu menjawab bahwa ia tertarik dengan anak-anak.

Terjebak pada imimg-iming anak-anak yang ditawarkan Bob pada Felton, Felton pun langsung terbang ke Alaska. Namun apa yang terjadi tidak seperti yang ia harapkan.

Sesampainya di bandara, bukannya bertemu dengan ayah yang membawa 2 anak sesuai janji di internet, Felton malah harus berhadapan dengan petugas berwenang yang sudah menunggunya untuk meringkusnya.

Seperti yang dilansir detiKINET dari DailyMail, Selasa (24/11/2009), kini pria yang aktif di bidang kedokteran itu harus menghadapi ancaman hukuman minimal 30 tahun di penjara dan maksimum seumur hidup jika terbukti bersalah. ( sha / faw )