Dedemit Maya Serang Situs Wakil Presiden Filipina

Jakarta – Para peretas di Filipina beraksi di tahun baru. Mereka menyerang dan mematikan beberapa situs pemerintah Filipina, salah satunya situs kantor wakil presiden Filipina, Jejomar Binay.

Seperti dilansir AFP, dedemit maya yang menamai diri mereka kelompok PrivateX telah mematikan situs resmi Wapres Filipina selama 15 jam pada Minggu (01/01/2012) dan menolak akses untuk masuk ke dalam situs tersebut.

Situs itu sendiri berisi informasi mengenai program, proyek, dan pelayanan di kantor wakil presiden. Ia juga berfungsi sebagai portal bagi para pekerja migran Filipina di seluruh dunia untuk berkeluh kesah.

“Pada 1 Januari 2012 sekitar pukul 16.00 (waktu setempat), situs resmi Kantor Wakil Presiden telah diretas oleh kelompok PrivateX yang mengakibatkan situs tidak dapat berfungsi selama 15 jam,” tutur Binay.

Binay mengatakan bahwa situsnya dikelola oleh Advanced Science and Technology Institute (ASTI). Pihak ASTI pun telah melakukan investigasi atas kejadian ini.

“Kami telah diberitahu bahwa ASTI sedang memeriksa kejadian ini dan akan menempatkan orang-orang yang diperlukan,” katanya.

PrivateX juga telah meretas situs Institut Penelitian Nuklir Filipina (Philippine Nuclear Research Institute), situs anti-peretasan Optical Media Board, dan dua situs lain yang dijalankan oleh agen pemerintah.

Sedikit yang diketahui tentang kelompok PrivateX, tetapi di pesan yang ditinggalkan oleh kelompok tersebut dalam situs yang dibajaknya, mereka ingin menunjukkan betapa rentannya situs-situs Filipina untuk dibajak.

“Kami anonim. Kami pasukan, kami tidak memaafkan. Kami tidak lupa. Bersatu padu, tidak dapat dipecah-belah. Kecuali oleh kami,” tulis pernyataan tersebut.

( ash / ash )

Advertisements

Kominfo Pastikan Pengawas Internet Indonesia Masih Berjaga

Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengakui jika Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (Id-SIRTII) saat ini masih menanti pimpinan yang baru. Namun bukan berarti jika aktivitas tim pengawas internet Indonesia itu tak beroperasi sebagaimana mestinya.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan bahwa nasib Id-SIRTII saat ini seperti Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), yakni masih menjalankan seleksi terhadap pengurus barunya.

“Dan sembari menunggu itu, kondisinya pun sama. Pengurus yang lama diperpanjang dulu masa kerjanya sebelum diberhentikan secara resmi dan diganti pengurus baru,” kata Gatot kepada detikINET.

“Artinya aktivitas operasional tidak akan terganggu dalam masa transisi ini. Berbeda dengan setahun yang lalu memang terganggu, masalah tapi bukan terjadi di level pimpinan, tapi manajemennya terkait macetnya anggaran,” lanjutnya.

Pun demikian, pernyataan Gatot tersebut sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan mantan Wakil Ketua Id-SIRTII M. Salahuddien yang mengaku sudah demisioner.

Namun, Id-SIRTII disebutkannya masih beroperasi sebagaimana mestinya. Meski sudah tak ngantor lagi, pria yang akrab disapa Didin Pataka itu memastikan masih ada staf Id-SIRTII yang mengawal internet Indonesia selama masa transisi ini.

Dijelaskannya, Id-SIRTII itu terbagi menjadi tiga divisi, yakni tim ahli, tim pengawas dan tim pelaksana. Nah, untuk masa transisi ini ada tim pengawas yang bekerja.

“Cuma kan tim pengawas ini para bos jadi tidak operasional, maka ada sejumlah staf yang tetap jalan tapi dalam mode limited services. Jadi menjalankan fungsi pokok saja dan tidak ambil keputusan strategis,” tukasnya.

Termasuk jika ada serangan internet ke Indonesia, maka tim pengawas ini yang bergerak menjalankan fungsi pokok penanganannya. “Monitoring, log, koordinasi tetap dijalankan sebagaimana biasanya, yang tidak ada fungsi training, lab dan lainnya,” papar Didin.

Sebelumnya diberitakan bahwa aktivitas Id-SIRTII sebagai pengawas internet Indonesia dikhawatirkan bakal terganggu lantaran lengsernya level pimpinan di lembaga tersebut.

Memang, masih ada staf yang berjaga-jaga, namun sifatnya bukan level strategis sehingga jika ada serangan keamanan jaringan dikhawatirkan tak dapat ditangani secara maksimal.

( ash / rns )