Banjir Pedofilia Online dan Ledakan ‘Sexting’

Fino Yurio Kristo – detikinet


Ilustrasi (ist)

Jakarta – Perkembangan Teknologi Informasi (TI) bermanfaat besar bagi manusia. Celakanya, mereka yang berniat jahat tak mau ketinggalan mengadopsinya untuk berbuat kriminal. Tahun 2009, tercatat berbagai kasus kejahatan bertaraf kecil sampai luar biasa, terjadi karena perantaraan TI.

Fenomena cukup menonjol di tahun 2009 barangkali adalah banjir pedofilia online dan maraknya ‘sexting’ di kalangan remaja. Dua fenomena ini cukup sering jadi headline media massa dan menciptakan keprihatinan tersendiri.

Banjir Pedofilia Online

Kaum pedofil, yakni mereka yang punya kelainan tertarik secara seksual dengan anak kecil, terindikasi makin gemar mencari mangsa via internet di tahun 2009. Catatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap jumlah mencengangkan, 750 ribu penjahat seks membanjiri internet dan seolah berlomba mencari mangsa anak kecil.

Modus operandi para pedofil online umumnya mirip-mirip. Mereka memanfaatkan situs jejaring seperti Facebook atau chatting online dalam usaha mencari mangsa. Begitu mendapat sasaran potensial, bujuk rayu dilancarkan dengan satu tujuan, bertemu di dunia nyata dan melakukan hubungan terlarang.

Pelaku kejahatan seks online bisa berasal dari semua kalangan. Dalam sebuah kasus di Inggris, seorang dosen bereputasi internasional bernama Dr Trevor Jackson, dibekuk aparat setelah berhubungan seks dengan gadis yang baru berusia 13 tahun yang dikenalnya via internet.

Yang cukup menonjol di tahun 2009, para pelaku kejahatan cabul ini tak jarang adalah orang dekat korban. Bahkan para orang tua mereka sendiri. Seperti kejadian di kota London, di mana seorang ibu menyiarkan secara langsung tindak pelecehan seks anak-anak kandungnya via webcam.

Dalam kasus lain di Amerika Serikat, seorang ayah melalui internet mengajak anak kandungnya berhubungan seks. Sesudah lama tak bertemu, sang ayah menjumpai anaknya via dunia maya dan malah ingin melakukan aksi jahat.

Tahun 2009 juga diwarnai dengan tingginya kasus kaum pedofil membanjiri internet dengan gambar atau video porno bocah tak bersalah. Para pedofil banyak yang tega mengeksploitasi anak kecil untuk melakukan adegan seksual yang lalu diposting online.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap betapa luas peredaran pornografi anak online. Tercatat lebih dari 200 gambar porno anak diproduksi tiap hari dan keuntungan industri jahat ini mencapai 3 sampai 20 miliar dolar setahunnya.

‘Sexting’ Berujung Bunuh Diri

‘Sexting’ adalah kosakata Inggris baru, yang berarti fenomena berkirim konten seks via ponsel, bisa berupa teks atau gambar porno. Di tahun 2009, sexting meledak di kalangan remaja, bahkan dinobatkan sebagai finalis Word of the Year oleh New Oxford American Dictionary.

Sebuah survei yang dilakukan stasiun televisi anak muda MTV di Amerika Serikat baru-baru ini mengungkap, sepertiga anak muda di sana mengaku saling berkirim SMS atau foto porno dengan kekasih mereka via ponsel.

Dan ternyata, aksi ‘sexting’ bisa membawa dampak negatif luar biasa. Dalam beberapa kejadian, foto mesum tersebar luas dan membuat korban dipermalukan. Sebatas rasa malu tentu bisa dikategorikan wajar. Namun bagaimana jika korban ‘sexting’ memilih bunuh diri karena rasa malu yang sedemikian kuat?

Ya, di tahun 2009, seorang siswa perempuan asal Florida bernama Hope Witsell bunuh diri. Ia tak tahan menanggung malu setelah foto toplessnya beredar luas di kalangan teman-teman sekolahnya. Kasus Witsell barangkali sebuah titik kulminasi bahaya menjamurnya ‘sexting bagi’ remaja.

Sinergi Aparat, Pelaku Industri dan Keluarga

Fenomena negatif tersebut patut mendapat perhatian serius. Memang kejadiannya muncul di mancanegara, namun bukan tak mungkin segera marak pula di Indonesia.

Barangkali, pesatnya perkembangan teknologi di mancanegara yang sudah menyentuh semua kalangan masyarakat membuat hal-hal negatif tersebut jamak terjadi. Dan seiring perkembangan TI yang melonjak di Tanah Air, kewaspadaan patut ditingkatkan. Tindak pencegahan pantas dilakukan atau penyesalan yang akan datang belakangan.

Peran orang tua dan keluarga sangat diperlukan untuk menangkal dampak negatif internet. Mereka perlu memperhatikan serius apa yang diperbuat anaknya saat berselancar di dunia maya atau menggunakan ponsel, serta memberi pondasi iman kuat.

Pelaku industri juga harus berbuat semaksimal mungkin mengantisipasi efek negatif. Di tahun 2009, berbagai inisiatif telah dilakukan, misalnya sinergi antara raksasa internet AOL, Yahoo, dan Google menelusuri jutaan anggota di database 13 situs jejaring sosial untuk memburu penjahat seks.

Terakhir peran otoritas memegang peranan signifikan dalam menelurkan kebijakan melindungi kaum muda dari bahaya pedofil online atau sexting. Semoga di tahun 2010, sinergi ciamik dari aparat, pelaku industri dan keluarga mampu membendung dampak negatif di dunia TI, khususnya di Indonesia. ( fyk / ash )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: