Metode Pembayaran dengan Digital Cash

Sering kali di dalam dunia maya, seseorang ingin belanja secara cepat dan tidak bertele-tele, terutama dalam hal melakukan transaksi pembayaran. Terlebih-lebih jika barang yang ingin dibeli melalui internet tergolong berharga murah, misalnya dibawah US$5,- Jelas bahwa untuk jumlah tersebut, menggunakan kartu kredit akan membuang-buang waktu, karena disamping harus mengisi sejumlah formulir, proses otorisasi terkadang memakan waktu yang cukup lama, tidak sebanding dengan nilai transaksi yang ingin dilakukan. Bagi praktisi bisnis yang ingin mempermudah konsumennya dalam membelanjakan uang untuk produk-produk retail berharga murah dengan sistem E-Commerce, ditawarkan sebuah metode pembayaran yang tergolong cepat dan aman, yaitu dengan menggunakan uang digital (Digital Cash). Cara kerjanya cukup unik, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Prinsip yang dipergunakan dalam implementasi sistem digital cash cukup sederhana (Kosiur, 1997). Di dalam dunia maya, uang dapat direpresentasikan dalam susunan bit atau karakter (string) dalam beberapa digit. Seperti layaknya penggunaan kupon dalam sebuah bazar, seorang nasabah bank dapat meminta beberapa kupon (disebut sebagai “token”) kepada bank di tempatnya menabung dalam pecahan yang diinginkan (misalnya US$1,-). Melalui email bank akan memberikan nomor seri beberapa token tersebut kepada nasabahnya sesuai dengan permintaan. Bank selanjutnya akan mendebit sejumlah uang yang ditransfer pada rekening nasabah yang bersangkutan. Token inilah yang kelak akan dipergunakan oleh nasabah untuk berbelanja di internet. Cukup dengan memberikan nomor seri dari token (digital cash) yang ada kepada “toko” di dunia maya, yang kemudian akan diverifikasi dengan bank yang bersangkutan, transaksi perdagangan antara penjual dan pembeli dapat dengan mudah dan cepat dilakukan di internet.

Tentu saja pada teknis pelaksanaannya akan dilakukan beberapa proses untuk menjaga keamanan transaksi pemberian token dari bank ke nasabah agar uang digital tersebut tidak “dicuri di tengah jalan” (pada jalur transmisi). Biasanya nasabah memiliki kunci enkripsi yang diberikan oleh bank untuk melakukan pengacakan terhadap permintaan akan token (untuk menjamin agar bukan orang lain yang memintanya); dan sebaliknya bank akan mengirimkan token yang dilengkapi dengan digital signature sebagai tanda bahwa token yang dihasilkan “tidak palsu”. Untuk mencegah agar uang tidak dipergunakan dua kali, maka bank akan melakukan pencatatan terhadap token yang telah dibelanjakan oleh nasabahnya.

Sumber: David Kosiur, 1997

Variasi terhadap implementasi sistem uang digital ini telah dikembangkan oleh beberapa institusi keuangan. Misalnya adalah pembelian token melalui transfer antar rekening antar bank, sehingga calon konsumen tidak perlu harus memiliki rekening di bank yang bersangkutan (mirip dengan sistem e-cash). Karena token tersebut berasal dari bank yang dikenal oleh masyarakat, maka dapat dibelanjakan di toko-toko virtual mana saja yang ada di internet. Atau variasi lain adalah membeli token dengan menggunakan kartu kredit di sebuah lembaga keuangan tertentu. Tentu saja harus ada lembaga atau asosiasi yang mengatur agar “uang palsu” tidak “berkeliaran” di dunia maya, yang biasanya dibentuk oleh pemerintah negara setempat. Tidak jarang pula ditemui toko-toko tertentu yang mengeluarkan digital cash-nya masing-masing, yang dapat dipergunakan untuk membeli produk-produk pada toko-toko yang menjadi rekanannya atau yang tergabung dalam suatu jaringan usaha tertentu.

7 Responses

  1. adakah kasus nyata tentang pembayaran dengan menggunakan uang elektronik…mohon bantuanya karena saya sedang membuat skripsi tentang digital cash dan memerlukan kasus nyata yang terjadi

  2. Buat saudara gandhi,
    sebetulnya ada beberapa metode penggunaan Digital cash yang ada sekarang, awalnya memang seperti membeli ” koin ” tertentu di Bank yang isinya bernilai seperti Dollar atau rupiah, nah kemudian ” koin ” tersebut yang kita gunakan untuk berbelanja, namun dalam perkembangannya banyak digunakan oleh beberapa perusahaan swasta lainnya, mari kita lihat contoh dibawah ini :

    Coba anda lihat pada situs http://www.NamaDomain.com(saya bukan promosi ya).
    anda lihat pada Kolom Hosting service , disitu terdapat beberapa harga untuk Hosting sbb :
    Paket Starter 5 UKR
    Paket Business 14 UKR
    Paket Corporate 24 UKR
    Nah di mana-mana kan tidak ada mata uang dengan UKR ( Unit Kredit Register ).
    nah kemudian coba anda lihat pada informasi – Daftar harga, akan anda lihat tabel berikut :
    Pilihan Unit Kredit Register ( UKR )
    Jumlah Harga Satuan Harga Total
    1 UKR(*) 200.000,00 200.000,00
    2 UKR 150.000,00 300.000,00
    5 UKR 140.000,00 700.000,00
    10 UKR 135.000,00 1.350.000,00
    25 UKR 130.000,00 3.250.000,00
    50 UKR 125.000,00 6.250.000,00

    Jadi Perusahaan ini menukarkan Rupiah anda dengan ” Mata uang ” mereka yang disebut dengan UKR, sehingga pada saat anda akan melakukan transaksi,anda akan di Debet dari UKR anda. tentu dengan cara ini kita hanya akan melakukan Transfer Rupiah via bank jarang-jarang saja ( atau malah dengan cara pembelian cash UKR kekantornya ), selebihnya kita bisa berbelanja menggunakan UKR yang kita beli, beberapa perusahaan besar sudah mulai menggunakan system ini untuk memudahkan pembelanjaan nasabah mereka, dari sisi keamanan tentu saja Nomor rekening kita tidak terekspos keluar, bila di Sniffing, mungkin yang hilang hanya nilai UKR nya tetapi bukan rekening kita.

    UKR disini bisa disebut dengan “Token” pada Transaksi di Bank menurut David Kosiur, 1997 .
    Mungkin hal ini bisa menjadi Panduan bagi anda untuk mencari contoh-contoh lainnya. makasih Pak gandhi atas kunjunganya ke blog saya.saya harapkan ada masukan bila anda menemukan contoh lainnya, terimakasih.

  3. [...] Submitted on 2009/03/09 at 4:53am [...]

  4. [...] Submitted on 2009/03/10 at 3:15am [...]

  5. apakah yang menjadi kendala dalam proses pembayaran dengan menggunakan digital cash???

  6. Pak Gandhi, saya akan coba jawab sebisanya.
    1. Yang pasti adalah tinjauan dari sisi keamanannya,terlepas itu penggunaan digital cash ataupun bukan . Karena setiap pengiriman paket-paket keuangan
    seperti ini sangat rentan di ” ambil ” ditengah jalan oleh pelaku kajahatan, sehingga harus di buat sebuah sistem security yang benar-benar handal untuk
    proses pengamanan pengiriman uang melalui digital cash ini.misalnya seperti penggunaan digital signature dan sebagainya.
    2. Ditinjau dari sisi ekonomisnya, sebaiknya kita menggunakan uang digital disesuaikan dengan perkiraan kebutuhan pembelian saja, dalam artian jangan
    tukarkan uang ( real money anda ) secara besar-besaran dengan uang digital, karena uang anda akan mengendap sangat lama disitu apabila anda tidak
    melakukan pembelian atau transaksi.Ditakutkan beberapa vendor penyelenggara Digital cash tidak memperkenankan digital cash / tokennya di uangkan
    kembali.

    Untuk masalah metodologi transaksinya ( proses pembayaran )sendiri saya lihat sejauh ini sudah semakin baik.

    tolong masukkannya apabila ada kekurangan nih pak, thx

  7. saya mau tanya apa perbedaan penggunaan credit card dengan digital cash didasarkan atas nilai transaksi ? makasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: