Kriteria Eksekutif Bisnis Dotcom

Pada masa keemasan perekonomian Indonesia beberapa tahun sebelum krisis, terlihat adanya “booming” di bidang teknologi informasi. Mayoritas perusahaan-perusahaan besar di Indonesia berlomba-lomba untuk mengimplementasikan sistem informasi untuk meningkatkan daya saingnya secara signifikan. Sepuluh besar konsultan international teknologi informasi dan change management seperti tertimpa durian runtuh. Kebutuhan tenaga dengan kompetensi dan keahlian di bidang teknologi informasi telah membuat terjadinya turn over ratio sumber daya manusia yang sangat tinggi, hampir mencapai 75% dalam setahun. Para eksekutif di bidang teknologi informasi tidak ragu-ragu untuk pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain karena tergiur dengan tawaran paket gaji dan tunjangan yang sedemikian tinggi. “Booming” di industri teknologi informasi ditandai pula dengan latahnya berbagai perusahaan untuk banting setir dari bisnis intinya untuk menekuni bidang yang dinilai sangat menguntungkan ini.

Namun keadaan menjadi berbalik ketika krisis ekonomi terjadi. Gulung tikarnya sejumlah  perusahaan besar menyebabkan banyaknya praktisi di bidang teknologi informasi setingkat manajer harus kehilangan pekerjaannya. Pada masa tersebut, yang mampu bertahan adalah para eksekutif yang notabene telah lalu lalang di dunia manajemen dan bisnis cukup lama (10-15 tahun), yang secara kebetulan memiliki kemampuan yang cukup baik di bidang teknologi informasi. Sempat terpetik kesan, bahwa era jaya eksekutif teknologi informasi di Indonesia telah masuk ke tingkat stagnansi sampai krisis yang berkepanjangan usai.

Belakangan ini nampaknya nasib kembali berpihak kepada mereka yang memiliki kemampuan khusus di bidang ini, karena sejalan dengan proses pemulihan ekonomi, globalisasi dunia telah membawa sebuah fenomena baru dengan diperkenalkannya konsep ekonomi baru yang dinamakan e-conomy. Di dalam era ini mutlak dibutuhkan kemampuan pemain-pemain baru yang paham betul mengenai konsep e-business dan e-commerce. Minat masyarakat bisnis untuk mengadu untung dengan mendirikan perusahaan-perusahaan “dot.com” di seluruh dunia secara mengejutkan telah mempengaruhi industri teknologi informasi di Indonesia. Hal ini terbukti dengan terjadinya perebutan eksekutif-eksekutif yang menguasai bidang teknologi informasi oleh berbagai pemain lama maupun baru. Dalam bisnis portal misalnya, Agrakom (pemilik dan pengelola Detik.com) telah menggandeng eksekutif sekelas Erry Ryana Harjapamengkas dan Rini Soewandhi, sementara langkah yang sama dilakukan oleh Astaga.com yang merekrut pembawa acara kenamaan RCTI Desi Anwar. Situs pesaing dari domain regional yaitu Catcha.co.id-pun tidak mau ketinggalan untuk mulai menawarkan berbagai jabatan eksekutif kepada beberapa orang. Pemain-pemain lama sepertinya tergerak untuk bergabung, seperti Peter Gonta dengan Web8888.com dan James Riady dengan Lippo E-Net nya. Belum lagi kabar angin yang mengatakan bahwa grup konglomerat sekaliber Salim Group dan Ciputra Group akan turut meramaikan kompetisi ini. Sebagai perusahaan yang memiliki “otoritas” di bidang telekomunikasi dan infrastruktur teknologi informasi, PT Telkom dan PT Indosat tidak pula tinggal diam. Mereka turut mendirikan perusahaan-perusahaan yang menawarkan beragam jasa terkait dengan bisnis perusahaan-perusahaan “dot.com”.

Kenyataan memperlihatkan pula, bahwa kebanyakan dari mereka yang bereksperimen dengan bisnis ini hanya bersedia untuk duduk sebagai pemilik atau dewan komisaris saja, selebihnya akan mereka serahkan kepada tangan dingin para eksekutif baru. Tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah belum adanya eksekutif-eksekutif muda yang terbukti berhasil memainkan kartu bisnis “dot.com” karena masih barunya arena usaha ini. Dan yang lebih penting lagi, kriteria eksekutif teknologi informasi yang dibutuhkan sama sekali berbeda dengan apa yang selama dimiliki oleh dunia bisnis pada umumnya (Indrajit, 2000). Seperti apakah karakteristik yang harus mereka miliki?

Pertama, mereka harus mengerti berbagai konsep dan paradigma baru dalam era e-conomy. Prinsip “people is hard to change” merekomendasikan untuk tidak mudah percaya kepada para eksekutif-eksekutif “bunglon” dan oportunis, yang selalu mengatakan bahwa mereka mengerti dan bisa beradaptasi dengan era ekonomi baru. Mereka harus mengerti benar konsep business transformation, yang tidak sekedar hanya menjual produk atau jasa di internet. Mereka harus tahu how to make business out of IT technical infrastructure!

Kedua, mereka haruslah seorang visioner dan memilki tingkat kreativitas yang tinggi. Hal ini wajar dimengerti mengingat bisnis di internet sangat mudah untuk ditiru dan diikuti oleh siapa saja di seluruh penjuru dunia. Hanya mereka yang dapat selalu menyediakan jasa yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih baik (cheaper, better, and faster) yang akan dilirik oleh pelanggan. Jelas invosi produk dan jasa selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu mutlak diperlukan oleh setiap perusahaan yang ingin sukses.

Ketiga, dalam bisnis dot.com, waktu berjalan sangat cepat. Jika periode satu tahun di dalam bisnis klasik merupakan jangka pendek, dalam bisnis internet periode tersebut sudah dipandang sebagai jangka panjang. Setiap detik sangatlah berharga. Hanya mereka yang memiliki daya tahan dan kecepatan yang prima yang dapat mengelola perusahaan “dot.com”.

Keempat, mereka harus mampu membawa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan secara cepat dan dinamis. Tidak mustahil setiap minggu perubahan strategi dan taktik harus dilakukan jika ingin tetap bertahan dalam bisnis ini. Semakin besar sebuah perusahaan, biasanya semakin sulit untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Kelima, mereka harus mampu mengelola beragam praktisi teknologi informasi dengan karakteristiknya masing-masing. Harap diingat bahwa pembajakan SDM masih terjadi secara intensif. Gagal menerapkan sistem manajemen dan sistem remunerasi yang tepat akan menyebabkan terganggunya perusahaan karena harus gonta-ganti staf dan karyawan. Bisnis ini selain padat modal, sarat pula dengan padat intelektual. Pindahnya SDM kunci ke perusahaan lain dapat berakibat hilangnya keunggulan kompetitif perusahaan tersebut.

Keenam, untuk dapat berhasil dalam bisnis ini, motto collaboration to compete harus dilaksanakan. Para eksekutif harus mampu menjalin jaringan bisnis dan kerja sama dengan perusahaan lain agar tercipta senjata persaingan yang jitu. Perusahan-perusahaan semacam vendor teknologi informasi, content partners, merchants, media, merupakan beberapa pemain yang harus didekati dan diajak bekerja sama.

Ketujuh, semangat profesionalisme yang dikawinkan dengan bakat enterpreneurship merupakan kriteria ideal yang harus dimiliki oleh seorang eksekutif. Hanya dengan kedua karakteristik inilah kinerja dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan dapat terjaga untuk jangka waktu yang cukup lama.

Sumber: Eko Indrajit, 2000

Pada akhirnya, bisnis di dunia maya adalah bisnis yang easy-come,easy-go. Walaupun awalnya dirasa mudah untuk terjun ke dunia ini, namun untuk dapat bertahan dari ancaman persaingan pada akhirnya membutuhkan usaha yang keras. Kunci utama berhasilnya bisnis ini terletak pada modal intelektual dari para eksekutif pengelola perusahaan, dimana ide dan strategi implementasi untuk mengembangkan perusahaan dan meningkatkan kinerja berasal. Dengan kata lain, jika dalam bisnis konvensional hubungan antara pemilik dan pengelola perusahaan terkadang tidak begitu dekat dan signifikan, dalam bisnis di dunia maya keduanya harus secara intensif berkomunikasi, terutama untuk membicarakan rewards and compensation yang menguntungkan bagi para eksekutif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: